keparat peracau

It's cheaper than therapy
Recent Tweets @
Posts tagged "submission"

Saya memandang logo swastika merah itu untuk terakhir kali. Sambil tertawa dan menuju mesin absen, saya mengingat begitu banyak emosi teraduk di dada saya. Hubungan kami serupa kegemaran saya terhadap Dian Sastro: saya suka dia secara personal, tapi sudahlah, berhentilah berakting.

Saya sering ditegur karena tidak pernah absen pulang, maka ketika saya lantas memijat telunjuk saya di mesin absen untuk terakhir kalinya, moncong saya tak henti-hentinya menertawakan ironinya. Saya sungguh-sungguh tertawa, dan tidak pura-pura berbahagia. Walau, sebuah ucapan selamat tinggal, betapapun telah lama saya nantikan hari yang berbahagia itu, tidaklah akan pernah menjadi saat yang penuh kebahagiaan.

Dan ketika saya berjalan bersama dua orang kawan saya menuju tempat kursus adik saya untuk mengambil mobil, saya membalikkan badan dan memandangi gedung keparat itu untuk terakhir kalinya.

Saya seringkali menggerutu atas kezaliman tempat ini, dan setiap saya menggerutu saya selalu teringat sebuah ayat: 

 Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’. Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’…” (Annisa:97)

Maka saya terus mengumpulkan keberanian, dan uang tentunya, untuk meninggalkan tempat ini. Tetapi keberanian dan uang itu mungkin tidak akan pernah cukup. Di sisi lain saya terlena dengan kredo tempat ini: Berpikir gaji dibayarkan, tidak berpikir gaji pula dibayarkan. Apalagi yang bisa saya minta?

Tempat ini begitu nyaman, bahkan terlampau nyaman. Sayangnya, kenyamanan bukanlah padanan kata kebahagiaan. Ini ternyata menyiksa saya. Saya selalu menggap diri saya seorang bohemian. Tidak bekerja untuk uang, tapi untuk kebahagiaan. Sedangkan kebahagiaan ada pada uang yang banyak (maaf, sarkasme). Walau menganggap diri seorang bohemian belum tentu benar seorang bohemian, sesungguhnya, kebahagiaan saya adalah menemukan batas diri saya, untuk lantas melampauinya.

Kredo supernyaman yang telah saya sebutkan rupanya memerlukan tumbal. Segala yang terbaik dari etos kerja saya terkunyah perlahan. Saya lantas bertanya tanya mengapa logo perusahaan ini serupa dengan swastika. Dan mulailah saya sadari betapa mereka yang menghuni tempat ini telah perlahan menjadi bodoh. Tidak lagi ada hasrat dalam tiap karyanya dan tidak ada niat untuk mengembalikan hasrat ini. Kamp konsentrasi ini sungguh telah secara sistematis melemahkan keinginan untuk suatu perbaikan. Kolega saya nyaris serupa zombi yang hanya ingin hari demi hari berlalu.

Saya harus selekasnya pindah, saya harus selekasnya hijrah dari kandang yang suka-tidak suka biasa saya sebut ‘tempat kerja’ (perhatikan saya memberi tanda kutip di tempat kerja tetapi tidak di kandang, itu seharusnya lucu). Ide tentang saya harus hijrah, membuat saya membayangkan malam ketika salah satu hijrah terpenting terjadi. Malam ketika seorang lelaki bergegas ke rumah salah seorang sahabatnya.

Dia pasti telah berulang kali mempertimbangkan untuk meninggalkan kota kelahirannya beberapa tahun terakhir. Mengapa tidak, tahun-tahun itu adalah tahun-tahun yang penuh keputusasaan baginya. Segala kebaikan yang telah ia usahakan kepada pemuka keluarga-keluarga di kotanya nampak tidak menemukan kawan. Saya hanya dapat menduga pastilah ia merasa sendirian.

Jangan salah, Ia terbiasa sendirian, Ia pernah menjadi seorang anak yatim. Namun, penderitaan yang ia hadapi bukanlah jenis penderitaan yang dapat dihadapi sendirian. Karena itu mungkin tuhan berlaku baik padanya: ia memiliki kawan-kawan seperjuangan yang sungguh setia padanya. Meski, jumlah ini tidak sebanding dengan penduduk kota kelahirannya yang harus ia hadapi. Dan setelah bertahun-tahun berupaya meyakinkan penduduk kotanya tanpa hasil berarti, dia lantas mungkin mulai bertanya-tanya apakah hasil yang akan didapatkannya sebanding dengan waktu yang ia luangkan. Kemudian ketika pamannya yang merupakan  sanak keluarga tempat berlindungnya akhirnya meninggal, mungkin ingatan itu muncul kembali. Ingatan betapa ia semata hanya sebatang kara.

Malam itu ia harus pergi. Pamannya telah meninggal. Ini memungkinkan salah seorang yang sungguh debil diantaranya bersiasat. Maka si debil mengajak pemuka keluarga lainnya mengumpulkan perwakilan dari kelima keluarga untuk memenggal lehernya. Motifnya serupa dengan mengapa Julius Caesar perlu ditikam oleh 12 anggota senat, untuk mencegah keluarga si lelaki ini untuk menuntut balik kepada pelaku sebanyak itu.

Pada saat kelima pembunuh perwakilan ini memutuskan untuk memasuki rumahnya, mereka hanya menemukan sepupunya dibalik selimutnya. Sedang Ia sendiri telah berada di tengah suatu gurun menuju Yastrib, meloloskan diri sebelumnya setelah bergegas ke rumah sahabatnya.

Dia pasti lega, kini pengikutnya tidak lagi perlu hidup dalam tekanan. Tidak lagi pengikutnya diiringi rasa takut dalam tindak tanduknya. Tidak lagi kesejahteraan pengikutnya diembargo hingga terdorong untuk berbuat kejahatan. Tidak lagi.

Saya tidak sungguh-sungguh tahu, apakah dia mengetahui gilang gemilang yang dijanjikan dalam upaya melarikan diri itu, atau semata ia hanya ingin sekedar keamanan dan kesejahteraan untuk pengikutnya.

Mungkinkah ketika dia berpaling memandang kota kelahirannya untuk terakhir kalinya, seluruh emosi bergelora. Seluruh harapan yang sesungguhnya perasaan sesal, yang berbisik: jika saja, jika saja dia berusaha lebih keras, mungkin jika dia tinggal sedikit lebih lama, kawan-kawannya mungkin tertarik pada suatu perbaikan. Sebesar apapun rasionya mengatakan sesungguhnya pemuka keluarga-keluarga di kotanya adalah makhluk debil yang tidak mau mendengar, hatinya mungkin masih dipenuhi penyesalan bahwa mungkin semua salahnya karena berusaha kurang keras. Mungkin saja.

Kejadian di atas terjadi tidak di awal Muharram, tapi di pertengahan Safar berabad-abad yang lalu. Tetapi, tahunnya terjadinya adalah awal penanda kalender Hijriyah. Hijrah adalah simbol suatu awal dari perbaikan. Hijrah adalah suatu momen pahit yang diperlukan untuk menjadi titik permulaan yang manis. Andaikata hijrah tidak terjadi si lelaki yatim ini mungkin hanya menjadi suatu tokoh sebuah sekte di suatu kota kecil di tengah gurun tak bernama.

Lantas tibalah kita di awal tulisan ini. Yaitu, di hari hubungan saya dengan tempat kerja saya berakhir. Tetapi jangan salah, di balik kesedihan ini saya pula mendapat dorongan untuk memulai sebuah kehidupan yang baru.

Tahun baru Hijriyah tengah berlangsung ketika saya menulis tulisan ini. Bukankah teramat kebetulan saya memulai kehidupan baru saya pada hari ini, walau saya ragu ini suatu kebetulan. Seseorang pasti sedang mendorong saya pada sesuatu.

Malam itu, di antara hembusan dingin angin gurun dan gigil gemelutuk tulangnya, terus Muhammad berkendara dengan untanya. Dan terus ia bergerak.

(Dibuat dengan segala permohonan maaf dan doa untuk kebaikan kantor lama saya)

I haven’t seem to found a single movie remotely comparable to this one.

moviesinframes:

Yeopgijeogin geunyeo (My Sassy Girl), 2001 (dir. Jae-young Kwak)

By cakesandtrucks

moviesinframes:

The Royal Tenenbaums, 2001 (dir. Wes Anderson)
By MikeSapienza

[More The Royal Tenenbaums here]

Makes me grateful, I’m supporting the industry.

moviesinframes:

Thank You for Smoking, 2005 (dir. Jason Reitman)
By stormina

[More Thank You for Smoking here]

The movie George Lucas based his Star Wars structure.

moviesinframes:

Kakushi-toride no san-akunin (The Hidden Fortress), 1958 (dir. Akira Kurosawa)

By RachaelW

The Dude abides