keparat peracau

It's cheaper than therapy
Recent Tweets @
Posts tagged "Francis Ford Copolla"

Akhirnya tibalah saatnya saya libur, bagi beberapa orang libur itu menyenangkan, tapi tidak bagi saya. Bukan, bukan karena saya orangnya rajin, tapi, karena saya sudah terlalu banyak tidur. Maka, saya memutuskan untuk merancang liburan yang konstruktif. Seperti, menyiapkan materi stand up*) saya, mengkoreksi teori string-nya Michiko Kaku**), dan menyusun 10 kutipan dari film nasional yang paling epik.
 
Kalau anda mengenal saya, anda tentu tahu, yang paling besar kemungkinannya untuk saya kerjakan adalah yang terakhir. Baiklah, mari kita mulai!
 
Anda pasti sudah tahu beberapa film hollywood ternama yang kutipannya membekas, seperti “Frankly my dear, I don’t give a damn” oleh Rhett Butler di Gone with The Wind atau “I’m gonna make him an offer he cant refuse” oleh Vito Corleone di The Godfather.
 
Sayangnya belum ada orang yang berhasil membuat kutipan film indonesia yang epik. Ada banyak orang yang menyusun sejumlah daftar kutipan film nasional, sayangnya daftar ini hanya memasukkan film nasional pasca episode mati surinya di tahun 90an akhir. Ya, pasca Kiki Fatmala, Inneke Koesherawati, dan Febby Lawrence bersimaharajalela mengumbar permukaan kulit tak terbatas dan kemampuan akting terbatas di segala penjuru bioskop tanah air.

Daftar ini mungkin tidak lengkap, tapi paling tidak Izinkan saya memulai daftar komprehensif ini:

1. “Saya Nasution” Pierre Tendean - G30S/PKI Tentu saja, kutipan ini saya letakkan di posisi pertama karena keindahan yang mengantarkan kutipan ini diucapkan. Tentara PKI, yang ingin menculik Nasution, menembak membabi buta sampai Ade Irma tertembak. Dari dalam kegelapan muncul siluet seseorang dengan bedil terhunus, seorang antek mengancam lelaki dalam kegelapan untuk meletakkan senjata. Dia menurut. Si antek membentak, “Mana Nasution!?” Dari kegelapan siluet itu bergerak ke terang cahaya, ternyata dia ajudannya, dan diucapkanlah kutipan di atas.

2. “Apa Kata Dunia?” Naga Bonar - Naga Bonar Serius, kau. Perlukah kuterangkan kenapa kutipan ini masuk daftar ini? Kutipan ini penuh sekali dengan simbolisme. Baik yang terucap secara tersirat, maupun tersurat. Mungkin perlu satu posting sendiri untuk menganalisis kutipan ini. Karena kutipan yang mengutarakan keengganannya untuk gagal ini, selain membicarakan harga dirinya sendiri, yang seorang Batak penuh gengsi, juga membicarakan Indonesia yang baru merdeka mempertahankan diri dari okupasi Belanda. Ya, ‘apa kata dunia’ sungguh-sungguh bertanya apa yang dunia internasional akan katakan kalau Jenderal Naga Bonar gagal mempertahankan Indonesia dari Belanda.

3. “Basi, madingnya udah siap terbit” Cinta - Ada apa dengan Cinta Baiklah, anda boleh kecewa dengan bisa masuknya kutipan ini di daftar yang prestisius ini, film ini semata hanya cuplikan diary gadis-gadis puber yang didramatisasi mengejar seorang Chairil Anwar wanabee. Cih. Tapi, izinkan saya membela diri. Film ini, selain Kuldesak dan Petualangan Sherina, adalah raungan kembalinya film nasional berkualitas di bioskop tanah air. Dan kutipan ini adalah pilihan kata vernakular yang merepresentasikan zeitgeist eranya. (ya, saya memang terlihat pintar kalau saya menggunakan kata-kata sulit)

4. “Tapi saya tidak punya uang. Sudah tiga bulan saya tidak melihat uang” | “Tuan tidak melihat, tapi Tuan memilikinya.” Jamal dan Max Siad, SH - Intan Berduri Kutipan ini mengingatkan kita akan masa film Nasional ketika masih lugu dan berkualitas. Baiklah, ketika saya mengatakan berkualitas coba singkirkan bayangan Francis Ford Copolla maupun Akira Kurosawa. Tapi, apa yang tidak menarik tentang Intan Berduri? Tidak hanya film ini dibintangi oleh Benyamin, dan film klasik tentang tentang orang kampung yang kaya mendadak, tetapi juga ada Rima Melati muda yang menyimpan uang di tempat sbelum dompet umum digunakan: kutang. Dan kalau anda memperhatikan sedikit, film ini menyebut nama kantor saya yang lama.

5. “Darah itu merah Jenderal” antek PKI - G30s/PKI Tentu saja kutipan ini harus masuk. Ini adalah kutipan yang populer digunakan dalam percakapan sehari-hari beserta derivatifnya tentu saja. Misalnya percakapan Q: Malam ini Valentine ngapain? | A: Nongkrong aja ama teman-teman | Q: Teman? Hahaha… Jomblo itu perih jenderal. ***)

6. “Yah, gak bisa ya? Sedih deh” Lila - Quicke Express Saya tidak akan membela diri. Sandra Dewi yang baru terkenal pada film ini membuat saya dan laki-laki satu bioskop merinding mendengar kata-kata ini. Saya serius. Gak percaya? Lihat ini

7. “Terus kalo sekarang lo gak punya temen sama sekali, tuh, salah siapa? Salah guwe? Salah temen-temen guwe?” Cinta - Ada Apa Dengan Cinta Tidak perlu saya jelaskan, 10 tahun berlalu dari saat film ini diputar di bioskop, kutipan ini masih relevan dalam lingua franca kontemporer. Klik ini untuk mengenang masa-masa indah itu.

Baiklah, kita sudahi dulu kumpulan kutipan film ini. Memang masih banyak masterpiece lokal yang belum disertakan dalam daftar ini, seperti November 1828, Bibir Mer, Cinta dalam sepotong Roti, dan lainnya. Selain karena terbatasnya koleksi film nasional yang pernah saya tonton, tetapi juga beberapa film berkualitas yang sudah saya tonton ternyata tidak memiliki kutipan yang catchy.

Pada akhirnya perlu saya sampaikan daftar ini bukanlah daftar yang fiks, terbuka kesempatan untuk perubahan posisi kutipan-kutipan ini tergantung argumentasi siapapun yang ingin mengusulkan sesuatu. Dan usulan adalah tambahan tak ternilai untuk daftar ini.


*)stand up maksudnya berdiri. saya pemalas, tulisan ini saya buat di tempat tidur. Berdiri adalah peristiwa yang jarang saya lakukan, karena itu saya harus menyusun rencana apa yang akan saya lakukan kalau nanti saya berdiri.

**)masak gak tahu Michiko Kaku? Akh, norak deh. Coba digoogle sana.

***)happy valentine, have a kleenex to celebrate it.