Dalam perjalanan pulang saya dari supermarket, jalanan di depan kostan saya dipenuhi kumpulan massa, tidak banyak mungkin hanya 30-an orang, tua-muda, lelaki-perempuan, berbagai bentuk, tetapi semuanya memiliki satu karakteristik yang sama: Putih. Anda tentu mengerti kata ‘putih’ yang saya maksud, ini konteksnya di Jerman tentu saja, semua nampak putih. Dan saya, meskipun saya merasa saya sawo matang, di mata mereka warna saya kuning. Anda juga tentunya, karena kita berbicara dalam bahasa yang sama.
Andai mereka tidak begitu rapi dalam barisan, andai mereka tidak diamankan oleh barisan tentara, dan andai saya memiliki adrenalin yang kurang dari kadar saya saat itu, tentu saya mengambil rute lain.
Untungnya tidak.
Sebagaimana turis yang tertarik dengan objek lokal, sayapun mendekat. Curiosity kills the cat, kata orang bule mah. Sayangnya saya bukan kucing. Kuriositas saya melampaui kemampuan rasional saya sendiri yang memperkirakan nyawa saya tak sampai sembilan. Saya mencoba mendekat dan menerjemahkan beberapa spanduk yang diacungkan dengan kemampuan menerjemahkan cap Goethe level anak TK, yang sering tidak berguna dalam percakapan sehari-hari.
Ah inilah ternyata aksi massa yang pernah saya baca di berita. Aksi massa kali ini berupaya mengenang pemboman kota Dessau oleh sekutu pada pada Perang Dunia Dua, dan membangkitkan perasaan nasionalisme. Setiap tahun aksi massa semacam ini cenderung berakhir rusuh sampai dua tahun terakhir.
Jangan salah, seperti kolesterol, nasionalisme itu tidak berbahaya dalam kadar yang tepat. Untuk negara yang memiliki sejarah dengan komposisi nasionalisme yang berlebihan, penduduknya seperti berupaya menahan diri dari menunjukkan perasaan cinta tanah air. Bagaimana tidak, definisi nasionalisme mereka adalah mengakuisisi Polandia. (Get it? It’s a joke)
Rupanya kita sedang berada di sisi jalan yang sama, di kanan. Meskipun mereka di tengah jalan, mereka lebih di kanan daripada saya. Ultrakanan.
Isu yang seiring sejalan dengan nasionalisme adalah persoalan pendatang asing. Sebagaimana negara eropa lainnya, berapa penduduk lokal merasa pendatang mengubah wajah jerman yang mereka kenal. Saya mencoba berempati, eh, apa simpati? Apapun itu namanya, saya malah hanya merasa mereka hanya ketakutan.
Sayangnya ketakutan memiliki wajah yang tidak serupa namanya. Wajah ini cenderung agresif dalam sepatu bot dan jaket training. Yep, mereka memiliki seragam sendiri rupanya.
Tapi, jangan sedih. Tidak semua orang Jerman seperti ini. Saya mencoba menanyakan kawan saya tentang ini, menurut dia ini adalah sesuatu yang bodoh, dia tidak akan sudi menjadi polisi menjaga aksi massa semacam ini. Jumlah orang-orang tidak terdidik semacam ini tidak banyak. Amplifikasi tingkah ekstrim segelintir orang bodoh hanya akan menciptakan ilusi suara orang kebanyakan.
Entah kenapa saya berpendapat tidak seperti ini. Rasisme, seksisme, dan segala macam cara pikir mengenai ketidaksetaraan yang menurut saya tidak masuk akal, apabila tetap hanya pendapat seharusnya dibiarkan. Maka saya katakan: “Tapi, bukannya itu hak mereka? Bukannya itu hanya opini? Dan mereka semata hanya menyatakan pendapat?”
“It’s not an opinion, dude. It’s pure bullshit.” Saya tidak sepakat. Tapi, saya suka kata-kata kawan saya ini, maka saya terbahak.
Saya mencoba mengingat-ingat situasi serupa di Indonesia. Untungnya kita tidak memiliki hal serupa setelah kerusuhan ‘98. Dan kerusuhan itupun karbitan, bukan perasaan publik pada umumnya. Saya masih ingat, seminggu setelah kejadian, warga mengembalikan barang jarahan di beberapa tempat.
Hampir saja kata-kata “untungnya kami tidak memiliki hal serupa di Indonesia,” meluncur dari ujung lidah saya, sampai bagian memori saya di kepala mengingatkan: FPI.
Akhirnya tibalah saatnya saya libur, bagi beberapa orang libur itu menyenangkan, tapi tidak bagi saya. Bukan, bukan karena saya orangnya rajin, tapi, karena saya sudah terlalu banyak tidur. Maka, saya memutuskan untuk merancang liburan yang konstruktif. Seperti, menyiapkan materi stand up*) saya, mengkoreksi teori string-nya Michiko Kaku**), dan menyusun 10 kutipan dari film nasional yang paling epik.
Kalau anda mengenal saya, anda tentu tahu, yang paling besar kemungkinannya untuk saya kerjakan adalah yang terakhir. Baiklah, mari kita mulai!
Anda pasti sudah tahu beberapa film hollywood ternama yang kutipannya membekas, seperti “Frankly my dear, I don’t give a damn” oleh Rhett Butler di Gone with The Wind atau “I’m gonna make him an offer he cant refuse” oleh Vito Corleone di The Godfather.
Sayangnya belum ada orang yang berhasil membuat kutipan film indonesia yang epik. Ada banyak orang yang menyusun sejumlah daftar kutipan film nasional, sayangnya daftar ini hanya memasukkan film nasional pasca episode mati surinya di tahun 90an akhir. Ya, pasca Kiki Fatmala, Inneke Koesherawati, dan Febby Lawrence bersimaharajalela mengumbar permukaan kulit tak terbatas dan kemampuan akting terbatas di segala penjuru bioskop tanah air.
Daftar ini mungkin tidak lengkap, tapi paling tidak Izinkan saya memulai daftar komprehensif ini:
1. “Saya Nasution” Pierre Tendean - G30S/PKI Tentu saja, kutipan ini saya letakkan di posisi pertama karena keindahan yang mengantarkan kutipan ini diucapkan. Tentara PKI, yang ingin menculik Nasution, menembak membabi buta sampai Ade Irma tertembak. Dari dalam kegelapan muncul siluet seseorang dengan bedil terhunus, seorang antek mengancam lelaki dalam kegelapan untuk meletakkan senjata. Dia menurut. Si antek membentak, “Mana Nasution!?” Dari kegelapan siluet itu bergerak ke terang cahaya, ternyata dia ajudannya, dan diucapkanlah kutipan di atas.
2. “Apa Kata Dunia?” Naga Bonar - Naga Bonar Serius, kau. Perlukah kuterangkan kenapa kutipan ini masuk daftar ini? Kutipan ini penuh sekali dengan simbolisme. Baik yang terucap secara tersirat, maupun tersurat. Mungkin perlu satu posting sendiri untuk menganalisis kutipan ini. Karena kutipan yang mengutarakan keengganannya untuk gagal ini, selain membicarakan harga dirinya sendiri, yang seorang Batak penuh gengsi, juga membicarakan Indonesia yang baru merdeka mempertahankan diri dari okupasi Belanda. Ya, ‘apa kata dunia’ sungguh-sungguh bertanya apa yang dunia internasional akan katakan kalau Jenderal Naga Bonar gagal mempertahankan Indonesia dari Belanda.
3. “Basi, madingnya udah siap terbit” Cinta - Ada apa dengan Cinta Baiklah, anda boleh kecewa dengan bisa masuknya kutipan ini di daftar yang prestisius ini, film ini semata hanya cuplikan diary gadis-gadis puber yang didramatisasi mengejar seorang Chairil Anwar wanabee. Cih. Tapi, izinkan saya membela diri. Film ini, selain Kuldesak dan Petualangan Sherina, adalah raungan kembalinya film nasional berkualitas di bioskop tanah air. Dan kutipan ini adalah pilihan kata vernakular yang merepresentasikan zeitgeist eranya. (ya, saya memang terlihat pintar kalau saya menggunakan kata-kata sulit)
4. “Tapi saya tidak punya uang. Sudah tiga bulan saya tidak melihat uang” | “Tuan tidak melihat, tapi Tuan memilikinya.” Jamal dan Max Siad, SH - Intan Berduri Kutipan ini mengingatkan kita akan masa film Nasional ketika masih lugu dan berkualitas. Baiklah, ketika saya mengatakan berkualitas coba singkirkan bayangan Francis Ford Copolla maupun Akira Kurosawa. Tapi, apa yang tidak menarik tentang Intan Berduri? Tidak hanya film ini dibintangi oleh Benyamin, dan film klasik tentang tentang orang kampung yang kaya mendadak, tetapi juga ada Rima Melati muda yang menyimpan uang di tempat sbelum dompet umum digunakan: kutang. Dan kalau anda memperhatikan sedikit, film ini menyebut nama kantor saya yang lama.
5. “Darah itu merah Jenderal” antek PKI - G30s/PKI Tentu saja kutipan ini harus masuk. Ini adalah kutipan yang populer digunakan dalam percakapan sehari-hari beserta derivatifnya tentu saja. Misalnya percakapan Q: Malam ini Valentine ngapain? | A: Nongkrong aja ama teman-teman | Q: Teman? Hahaha… Jomblo itu perih jenderal. ***)
6. “Yah, gak bisa ya? Sedih deh” Lila - Quicke Express Saya tidak akan membela diri. Sandra Dewi yang baru terkenal pada film ini membuat saya dan laki-laki satu bioskop merinding mendengar kata-kata ini. Saya serius. Gak percaya? Lihat ini
7. “Terus kalo sekarang lo gak punya temen sama sekali, tuh, salah siapa? Salah guwe? Salah temen-temen guwe?” Cinta - Ada Apa Dengan Cinta Tidak perlu saya jelaskan, 10 tahun berlalu dari saat film ini diputar di bioskop, kutipan ini masih relevan dalam lingua franca kontemporer. Klik ini untuk mengenang masa-masa indah itu.
Baiklah, kita sudahi dulu kumpulan kutipan film ini. Memang masih banyak masterpiece lokal yang belum disertakan dalam daftar ini, seperti November 1828, Bibir Mer, Cinta dalam sepotong Roti, dan lainnya. Selain karena terbatasnya koleksi film nasional yang pernah saya tonton, tetapi juga beberapa film berkualitas yang sudah saya tonton ternyata tidak memiliki kutipan yang catchy.
Pada akhirnya perlu saya sampaikan daftar ini bukanlah daftar yang fiks, terbuka kesempatan untuk perubahan posisi kutipan-kutipan ini tergantung argumentasi siapapun yang ingin mengusulkan sesuatu. Dan usulan adalah tambahan tak ternilai untuk daftar ini.
*)stand up maksudnya berdiri. saya pemalas, tulisan ini saya buat di tempat tidur. Berdiri adalah peristiwa yang jarang saya lakukan, karena itu saya harus menyusun rencana apa yang akan saya lakukan kalau nanti saya berdiri.
**)masak gak tahu Michiko Kaku? Akh, norak deh. Coba digoogle sana.
***)happy valentine, have a kleenex to celebrate it.
Remember my last post when I said there’s nothing magical about snow? Yeah, forget that. It is. *grin*
Setiap ada kawan saya yang bertanya tentang keberadaan salju di tempat saya sekarang, reaksi yang lazimnya saya ekspresikan adalah mengangkat alis sebagai tanda keheranan, kemudian mungkin dilanjutkan dengan gelengan kepala dan helaan nafas, yang menandakan kekaguman saya akan sederhananya kebahagiaan anak ini.
Bahkan sebelum saya datang ke Dessau pun, saya tidak terjebak dalam euforia keberadaan salju ini. Salju bukanlah zat magis yang terletak di alam nun jauh di mata. Meskipun saya sering berpikir begitu dulunya kalau saya menonton film Hollywood. Dan iya, salju memang jauh dari mata saya yang memandang dari Jakarta.
Tapi, seiring waktu berjalan saya sadar, salju semata hanya air yang beku. Serupa dengan kondisi tropis kita yang hujan air, salju adalah hujan yang beku. Salju tidak lain hanya efek samping dari peristiwa alam yang terjadi jika rotasi bumi, yang sumbunya miring sedikit itu, memungkinkan wilayah yang terletak jauh dari khatulistiwa tidak dapat jatah sinar matahari yang cukup. Wilayah ini jaraknya agak jauh dari Khatulistiwa, kurang lebih 2500 KM.
Yang menarik adalah, posisi terjauh bumi, aphelium bahasa kerennya mah, kalau dibandingkan dengan posisi terdekat bumi, perihelium, ini juga bahasa kerennya, selisihnya adalah 5 juta KM. Rata-rata jarak kedua titik ini adalah 150 juta KM
Dan waktu dimana bumi paling dekat dengan matahari justru terjadi pada Desember-Maret, di belahan bumi bagian utara justru hot-hot-nya turun salju.
Hmm.. Baiklah, kata ‘hot-hot-nya turun salju’ memang sedikit aneh. Tetapi, yang lebih aneh adalah, selisih 5 juta KM di ruang hampa menjadi tidak relevan dibandingkan dengan jarak 2500 KM di permukaan bumi. Canggih bukan kemampuan atmosfer kita ini? Nah, itu baru Mejik.
Sebentar, sebentar. Terjauh? Terdekat? Jadi lintasan garis edar bumi itu berubah-ubah? Bukan lingkaran?
Bukan sih, sebenarnya elips.
Kok elips? Mari kita tanya Galilleo!
Bukan Galilleo. Newton!
Whateverr..
Jadi meskipun hukum gravitasi yang dirumuskan Newton mengisyaratkan adanya jari-jari, yang artinya lintasan orbit bumi itu lingkaran, tapi kenyataannya bentuknya elips, ini karena ada translasi vektor lintasan bumi dari potongan kerucut.. Lo ngedengerin gak sih?
Sori, bro. Bertahun berteman dengan televisi membuat saya terjangkit ADD, so you lost me at ‘Setiap ada kawan saya’.
*scroll ke atas* Itu ada di awal posting ini, gimana caranya kita bisa ngobrol dalam keadaan tidak fokus?
Jangan tanya gw, gw cuma tokoh rekaan dalam imajinasi lo.
Betul juga. Anyway, anda punya kulkas? coba dibuka freezer-nya. Voila: Salju! *membungkuk*
Millions of emotions must’ve heaved unto her chest as Dorothy awaken to her all new surrounding. A bizarre wonderland, and a more bizarre name, Oz. She only want to go back to Kansas. She only want to go back home.

One beast came unto her. It is the Lion, and a timid one. One might say a timid lion is not a lion! While others would wonder how could he survived all this years without being the utmost of its own food chain. Without being the alpha male. Yet, herein stand before her to answer this question he replied:

“I’m a new age vegetarian, you probably never heard of it.”
There you have it, a hipster lion.
She later learned that the only way for her to be back to Kansas is to ask the Wizard who lives in the Emerald City, the same person who could give the Lion his courage, She ask for his company. Besides the Emerald City is a long way to reach by yourself, but rather short range had you were accompanied.
Thus the timid Lion join her way, fear started to arise. By the time they listen to a squeaking sound, surrounded they more in fear instead of curiosity. The squeaking sound turned out to be the Tin Woodman, who used to be a woodman, losing his limb to a curse, just to have it all replaced by a tin. It turned out all of the body limb were replaceable by tin except for his heart. A possible explanation of him being heartless person.
Some of the astute reader might ask, how is it possible to replace organic limb to metal? to this the Tin Woodman would reply:

“We have an advance stem cells research, bitch! Now quit whining and make me some sandwich.”
As she rejected the idea of making him his sandwich, he realized that he might be forever alone, had he not be more eloquent, had he not be more emphatic. Consumed by fear of to never love again he beg to join the group.

After a long discussion within the group, in which a female member of the group, whose name shall remain a secret, vetoed his membership due him being sexist, the Tin Woodman finally come along with them.
As if fear and rejection in not enough, hither unto them the ignorant Scarecrow, who noticed this gang with its each of its handicap. To entertain this group of friend, he mention that he may also need for an better intellectual potent. Dorothy and the Lion, who actually care enough asked him why he picked such wishes, he replied with:

“Uh, I don’t know, You guys seems like a bunch of misfits. I just feel bad I don’t have anything to bad about me.”
“Yeah, if you need a brain, you should ask the Tin Woodman for his stem cells contact” said the Lion.
After a long pause the Scarecrow replied, “ yeah, I doubt that even if he still got their number. Even if he does, he wouldn’t care. ”
The gang instantly wishes Scarecrows to join the group for each of their own reason. Dorothy is because that he may be the needed more reason in the group; the Lion think of him as vintage and ironic; and the Tin Woodman, doesn’t really care if he is in the group.
Once the final member reluctantly accepted his membership within the group, a sudden realization come and point them how they might not be in a such astute condition to take this journey unto this realm.
A realm where its inhabitants lips spoke to a somewhat familiar voice only to be transpired into a noise in her brain. A learned man may not be able to directly entangle this, how can one who lack endure such perplexing alienation.
A realm where it may only exist in her dream. She dreamt of such place, yet she’s uncertain most of the time were it’s true a dream, her dream. For dreams are lubricant to what otherwise would be a menial labor in ones limited existence. Or it is but a mere mishap in her brain mechanism, figment of her fantasy, a ridiculous vision that are meant to be forgotten once one awaken from ones daydream. To whatever her fickle little brain able to decide of the two possibilities, she can be certain that this realm, however unreal it is, has her within it.
A realm where incompetence shouldn’t be an option. Yet, questions on their own skill arise. Hence, the fear of losing breath on their neck.
Surreal as it is, the group can’t cease their amazement to this whole new realm. However it may end, however trivial this journey may be, they already undergo this amazement. The group may be frightened, rejected, foolish and far away from home. But away they go, along the yellow brick road. Each step they take, a step closer the Lion to his courage, the Tin Woodman to his heart, the Scarecrow to his intellect, and Dorothy, well..
Home.

As I promised to @arifabdillah the @tedxjakarta You speaker, who’s really good picking up peoples secrets, I would write again. But, due to my latent laziness, I will only repost some of my post on a blog that was hosted by the recently deceased friendsters. Here’s one of it. Enjoy:
“Jay, liat ini deh.” Temen gua nunjukkin foto kerumunan orang di komputernya. Dengan lekasnya ia mengganti foto itu dengan foto selanjutnya.
Jantung gua berhenti. Gua berharap-harap. Terus gua bilang, “Eh, balik liat yang tadi, deh”
“Mo ngapain?”
“Mo liat ada si dia, ga?”
“Mo ngapain nyari si dia.”
“Yaa.. Kali aja.”
“Kali aja apa?”
“Udah. balik yang tadi lagi.”, scrollnya dia puter buat ngeliat gambar kerumunan tadi. Mata gua mencecar mencari wajah si dia.
“Katanya udah gak ada feeling.”
“Emang gak ada.”
“Trus?”
“Nostalgic aja…”
“Gimana kalo nanti ketemu bukan Nostalgic yang kerasa? Gimana kalo nanti gak bisa tidur?”, Alah ni anak ngajakin debat. Gak tau gua lagi susah nyari apa?
“Maksud Lo?” gua berenti nyari, trus ngeliat mukanya bentar.
“Lu ngerti ‘kan? Maksud pertanyaan gua?”
“Gak. Apa?” pura-pura gak ngerti gua ngejawab.
“Gapapa, terusin nyari, gih.” Mata gua kembali nerusin nyari di tuh kerumunan. Kok dia gak ada-ada ya? Sambil nyari otak gua mikir terus maksud kata-kata temen gua. Kenapa gua mau repot-repot nyari tuh satu muka? Terus kenapa? Kalo udah ketemu buat apa? Jantung gua berdebar terus menanti kalau-kalau wajah selanjutnya yang gua pandang itu dia. Satu-per-satu gua pastiin kalo itu dia. Tapi ‘kan gak mungkin gua masih ada feeling ama dia. ‘kan udah entah berapa lama gua gak kontek-kontek ama dia. Katanya Witing tresno jalaran suko kulino. Nah, udah lama gak ketemu. Udah lama gak tanya2 kabar masak bisa ngecengin lagi. Gua selesai nyari. Gak ada dia. Gak kecewa. Gak sedih. Ternyata bener, gua cuma pengin nostalgia ngeliat foto dia jaman dulu. Gak ada feeling-feeling-an tuh.
“Gak ada. Next!”
Dengan Gagahnya sambil menghisap Dji Sam Soe-nya dalam-dalam kawan saya berkata, “Yakin?”
“Iye.” Dijawab dengan Haqqul yakin, setengah cuek. Mo balik baca majalah lagi.
“Waktu foto itu dia gak pake kacamata.” Dengan belagunya temen gua nunjuk salah satu muka di sisi kanan foto. Agak-agak gak mirip dia. Lebih cakep malah. Tapi, somehow, itu emang dia. Jantung gua berdebar tak berketentuan.
Malem itu gua gak bisa tidur.
Eclipse Plumage (Taken with instagram)
I guess it’s okay to laugh at this guys misery (Taken with instagram)





Tentu saja adegan di atas hanya terjadi dalam sinetron sejarah yang diproduseri Raam Punjabi. Oh, ya. klik ini kalau mau baca sesuatu tentang Tan Malaka.
So, my mom suddenly became this veteran soccer expert, even better than Riedl, I might add. Although her in-depth analysis are lacking, you can’t seriously blame her, she only liked soccer since Indonesia secure its position in the AFF Cup final last Sunday (Dec/19).
My mother, ladies and gentleman, can you believe that? I always blame my mother for my deficit of interest in sport, especially soccer, due to the fact of her missing interest toward any form of sports. And If there’s anything I’ve learn from Freud all this years, is that your character are mostly developed in the first three years of your live, therefore I have the scientific inclination toward the idea of she must’ve done something in my early childhood that drive me to boredom each time i see some sort of sports.
But, make no mistake, I’m not trying to tell you about how my mother raised me wrong, which she did by the way. (Every parents does. So shut up. Be grateful your mother doesn’t raised you to be a homicidal maniac or a foot fetish (it would need another a whole different post to summarize this psychoanalytically)) What I’m trying to tell you is that my mother, whose reputation of not liking sport preceded her, suddenly grow a liking to AFF Finals.
Why you might ask? Elementary, my dear Watson, Its a moment where every single people of this nation to set aside their bitterness, anger, frustration, and reach further just for a single spark of hope. Yes, hope. Our once great nation is in desperate need of hope. We kept saying we’re on the right track, but being in the right track doesn’t mean you’re anywhere near that so called purpose of this nation. Anyway, I won’t bore you with this, let me fast forward to what happened last night.
We lost the first leg finals against Malaysia. It sucks, i know. But you know what suckier? We kept blaming those laser pointers for our terrible game. I know, there were laser pointers, but, that’s not why we lost it, we lost it because they played better. Where-there any laser pointers or not it’s irrelevant. We play suck since the beginning. The Malaysian have been offensive since the whistle blown. It took a man to confront this fact, and a man is what you should be. Stop crying for this laser pointers, it wouldn’t change much.
Many of the great name in soccer had lost some of their most important games. Cruyff, whose famous one liner in soccer are considered honest and brilliant, it somewhat almost like a bullsh*t, such as, “Football is simple. But the hardest thing there is, is to play simple football”, or “you always have to make sure to score one goal more than your opponent,” couldn’t helped the The Netherlands 1978 World Cup national team win. He could only helped the national team to qualify. Without him The Netherlands can only get to runner up. He never mention his absence in the 1978 World Cup until an interview by a Radio that stated that his absence due to the safety of his family are threatened by some Military Dictatorship.
Or when Zidane suddenly buttheaded Materazzi for some unknown reasons, which cost France 2006 world champion. We never know what Materazzi really said. And Zidane never used this incident to gain sympathy. (This would happen so different had it happened to our President. Infact, he would overdo this just to gain pity)
What happened on the fields determine how history shall be written, however unfavorable the situation is. History would written this great man lost their most important games, but, never this men became less than great.
But, if you really in need of a scapegoat, try Nurdin. Yeah, that would do the trick. He take the whole national team to visit Bakrie just days before the game. What is that? But, no. You don’t blame a person for something that need years of preparation. Years I say? Let me explain:
Since 1980s China’s scouting agent have been lurking among isolated villages looking for the next Nadia Comaneci. They believe that great athlete are not made by mere talent. It require the dedication of not only of the athlete alone, but the community a whole, from support of the family until system of the government. But, you don’t get those result directly. Those first generation of potential athlete dedicate their live to drive their younger comrade. How young you ask? Try five.
In the last five Olympic China easily rank top four on the Olympic. The first rank on the last Olympic in Beijing. It’s much easier when you live in a communist country. No, wait. That didn’t happen to Soviet Union. Well, it does happen to Russia, though.
In short, great national team isn’t something you can achieve overnight, it take years of hardwork, and another years of regeneration. You don’t get result expecting Bachdim, who schooled himself on Ajax Amsterdam in The Netherlands, or Gonzales, who practically earned his skills somewhere in Uruguay and miraculously decided to be an Indonesian. Eventhough his effort to became a citizen weren’t supported by short sighted bureaucrat.
We should pay more attention on developing our local athlete instead of naturalizing an already good athlete. With better club, better competition, and better selection, we someday may not need any naturalized player. We someday may have the ability to raised our own great athlete.
Anyway, even if we scored 5-0 against Malaysia on The AFF Final next Tuesday, It won’t be our the whole nation victory, since we never contributed an equal amount of effort this so called championship.
Saya memandang logo swastika merah itu untuk terakhir kali. Sambil tertawa dan menuju mesin absen, saya mengingat begitu banyak emosi teraduk di dada saya. Hubungan kami serupa kegemaran saya terhadap Dian Sastro: saya suka dia secara personal, tapi sudahlah, berhentilah berakting.
Saya sering ditegur karena tidak pernah absen pulang, maka ketika saya lantas memijat telunjuk saya di mesin absen untuk terakhir kalinya, moncong saya tak henti-hentinya menertawakan ironinya. Saya sungguh-sungguh tertawa, dan tidak pura-pura berbahagia. Walau, sebuah ucapan selamat tinggal, betapapun telah lama saya nantikan hari yang berbahagia itu, tidaklah akan pernah menjadi saat yang penuh kebahagiaan.
Dan ketika saya berjalan bersama dua orang kawan saya menuju tempat kursus adik saya untuk mengambil mobil, saya membalikkan badan dan memandangi gedung keparat itu untuk terakhir kalinya.
Saya seringkali menggerutu atas kezaliman tempat ini, dan setiap saya menggerutu saya selalu teringat sebuah ayat:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’. Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’…” (Annisa:97)
Maka saya terus mengumpulkan keberanian, dan uang tentunya, untuk meninggalkan tempat ini. Tetapi keberanian dan uang itu mungkin tidak akan pernah cukup. Di sisi lain saya terlena dengan kredo tempat ini: Berpikir gaji dibayarkan, tidak berpikir gaji pula dibayarkan. Apalagi yang bisa saya minta?
Tempat ini begitu nyaman, bahkan terlampau nyaman. Sayangnya, kenyamanan bukanlah padanan kata kebahagiaan. Ini ternyata menyiksa saya. Saya selalu menggap diri saya seorang bohemian. Tidak bekerja untuk uang, tapi untuk kebahagiaan. Sedangkan kebahagiaan ada pada uang yang banyak (maaf, sarkasme). Walau menganggap diri seorang bohemian belum tentu benar seorang bohemian, sesungguhnya, kebahagiaan saya adalah menemukan batas diri saya, untuk lantas melampauinya.
Kredo supernyaman yang telah saya sebutkan rupanya memerlukan tumbal. Segala yang terbaik dari etos kerja saya terkunyah perlahan. Saya lantas bertanya tanya mengapa logo perusahaan ini serupa dengan swastika. Dan mulailah saya sadari betapa mereka yang menghuni tempat ini telah perlahan menjadi bodoh. Tidak lagi ada hasrat dalam tiap karyanya dan tidak ada niat untuk mengembalikan hasrat ini. Kamp konsentrasi ini sungguh telah secara sistematis melemahkan keinginan untuk suatu perbaikan. Kolega saya nyaris serupa zombi yang hanya ingin hari demi hari berlalu.
Saya harus selekasnya pindah, saya harus selekasnya hijrah dari kandang yang suka-tidak suka biasa saya sebut ‘tempat kerja’ (perhatikan saya memberi tanda kutip di tempat kerja tetapi tidak di kandang, itu seharusnya lucu). Ide tentang saya harus hijrah, membuat saya membayangkan malam ketika salah satu hijrah terpenting terjadi. Malam ketika seorang lelaki bergegas ke rumah salah seorang sahabatnya.
Dia pasti telah berulang kali mempertimbangkan untuk meninggalkan kota kelahirannya beberapa tahun terakhir. Mengapa tidak, tahun-tahun itu adalah tahun-tahun yang penuh keputusasaan baginya. Segala kebaikan yang telah ia usahakan kepada pemuka keluarga-keluarga di kotanya nampak tidak menemukan kawan. Saya hanya dapat menduga pastilah ia merasa sendirian.
Jangan salah, Ia terbiasa sendirian, Ia pernah menjadi seorang anak yatim. Namun, penderitaan yang ia hadapi bukanlah jenis penderitaan yang dapat dihadapi sendirian. Karena itu mungkin tuhan berlaku baik padanya: ia memiliki kawan-kawan seperjuangan yang sungguh setia padanya. Meski, jumlah ini tidak sebanding dengan penduduk kota kelahirannya yang harus ia hadapi. Dan setelah bertahun-tahun berupaya meyakinkan penduduk kotanya tanpa hasil berarti, dia lantas mungkin mulai bertanya-tanya apakah hasil yang akan didapatkannya sebanding dengan waktu yang ia luangkan. Kemudian ketika pamannya yang merupakan sanak keluarga tempat berlindungnya akhirnya meninggal, mungkin ingatan itu muncul kembali. Ingatan betapa ia semata hanya sebatang kara.
Malam itu ia harus pergi. Pamannya telah meninggal. Ini memungkinkan salah seorang yang sungguh debil diantaranya bersiasat. Maka si debil mengajak pemuka keluarga lainnya mengumpulkan perwakilan dari kelima keluarga untuk memenggal lehernya. Motifnya serupa dengan mengapa Julius Caesar perlu ditikam oleh 12 anggota senat, untuk mencegah keluarga si lelaki ini untuk menuntut balik kepada pelaku sebanyak itu.
Pada saat kelima pembunuh perwakilan ini memutuskan untuk memasuki rumahnya, mereka hanya menemukan sepupunya dibalik selimutnya. Sedang Ia sendiri telah berada di tengah suatu gurun menuju Yastrib, meloloskan diri sebelumnya setelah bergegas ke rumah sahabatnya.
Dia pasti lega, kini pengikutnya tidak lagi perlu hidup dalam tekanan. Tidak lagi pengikutnya diiringi rasa takut dalam tindak tanduknya. Tidak lagi kesejahteraan pengikutnya diembargo hingga terdorong untuk berbuat kejahatan. Tidak lagi.
Saya tidak sungguh-sungguh tahu, apakah dia mengetahui gilang gemilang yang dijanjikan dalam upaya melarikan diri itu, atau semata ia hanya ingin sekedar keamanan dan kesejahteraan untuk pengikutnya.
Mungkinkah ketika dia berpaling memandang kota kelahirannya untuk terakhir kalinya, seluruh emosi bergelora. Seluruh harapan yang sesungguhnya perasaan sesal, yang berbisik: jika saja, jika saja dia berusaha lebih keras, mungkin jika dia tinggal sedikit lebih lama, kawan-kawannya mungkin tertarik pada suatu perbaikan. Sebesar apapun rasionya mengatakan sesungguhnya pemuka keluarga-keluarga di kotanya adalah makhluk debil yang tidak mau mendengar, hatinya mungkin masih dipenuhi penyesalan bahwa mungkin semua salahnya karena berusaha kurang keras. Mungkin saja.
Kejadian di atas terjadi tidak di awal Muharram, tapi di pertengahan Safar berabad-abad yang lalu. Tetapi, tahunnya terjadinya adalah awal penanda kalender Hijriyah. Hijrah adalah simbol suatu awal dari perbaikan. Hijrah adalah suatu momen pahit yang diperlukan untuk menjadi titik permulaan yang manis. Andaikata hijrah tidak terjadi si lelaki yatim ini mungkin hanya menjadi suatu tokoh sebuah sekte di suatu kota kecil di tengah gurun tak bernama.
Lantas tibalah kita di awal tulisan ini. Yaitu, di hari hubungan saya dengan tempat kerja saya berakhir. Tetapi jangan salah, di balik kesedihan ini saya pula mendapat dorongan untuk memulai sebuah kehidupan yang baru.
Tahun baru Hijriyah tengah berlangsung ketika saya menulis tulisan ini. Bukankah teramat kebetulan saya memulai kehidupan baru saya pada hari ini, walau saya ragu ini suatu kebetulan. Seseorang pasti sedang mendorong saya pada sesuatu.
Malam itu, di antara hembusan dingin angin gurun dan gigil gemelutuk tulangnya, terus Muhammad berkendara dengan untanya. Dan terus ia bergerak.
(Dibuat dengan segala permohonan maaf dan doa untuk kebaikan kantor lama saya)
Judul yang provokatif bukan? Mana mungkin kuntilanak itu perawan? Mengakui kuntilanak itu perawan, sama dengan mengakui kuntilanak punya hymen. Kalau dia punya hymen, kenapa kita perlu menghentikan kemiripan fisiologisnya sampai sana saja? Lanjutkanlah pula dengan kepemilikan jantung, usus, dan otak, dan organ-organ lainnya yang dia perlukan untuk hidup. Yang, kalau memang si kuntilanak memiliki organ-organ tersebut, kenapa dia mati?
Lantas apa hubungannya dengan pisang? Anda tentu ingin berteriak, “hei, keparat peracau, apakah pisang hanya eufimisme dari phallus? Engkau sungguh mesum, keparat peracau!” Untuk penanya seperti ini saya hanya menjawab, engkau yang mesum, bung.
Tapi, biarlah saya menerangkan alasan ini dengan menceritakan pengalaman saya. Kurang lebih, (masukkan lagu kisah misteri di sini) Begini ceritanya:
“Malam itu saya terpaksa lembur sendiri di kantor. Kantor saya memang terkenal angker, beberapa karyawan senior memang pernah meninggal di kantor saya waktu dalam keadaan masih bekerja. (Ini frase ambigu, mereka meninggal di rumahnya masing-masing atau suatu rumah sakit, tentu saja. Jangan bayangkan mereka ditemukan pagi-pagi oleh office boy dengan satu tangan memegang mouse, satu tangan di keyboard, mengutak-atik autocad, dalam keadaan tidak bernyawa)
Tetapi itu tidak menghalangi niat saya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, karena besok pagi adalah waktu tenggat pemasukan tender suatu departemen yang gemar mengulang-ulang proyek yang sama dan remeh, untuk menambah penghasilan panitia tendernya. Maka, saya kerjakanlah proyek itu dengan penuh kesungguhan, mengabaikan fakta bahwa saya mengerjakannya dalam keadaan gelap gulita, menjelang pagi subuh, ditemani bebunyian kursi bergeser, tak lupa disertai ingatan cerita seram yang suka diceritakan oleh kawan-kawan sekantor saya.
Saya lalu teringat, ada sebuah data yang belum saya miliki dan perlu saya minta dari kawan saya yang kubikalnya terletak di satu lantai di atas saya. Saya lantas memilih menggunakan tangga untuk mendatanginya. Rupanya tempat kerja kawan saya sungguh terang benerang, ramai, dan, yang paling penting: ada makan malam. Setelah saya memasang tampang sejenis kucing kurus kehujanan dan kelaparan, ibalah mereka pada saya dan membagi kepada saya satu kotak nasi bungkus. Saya hanya dapat bertanya-tanya serupa apakah wajah saya yang mengiba itu, soalnya saya memang berkumis seperti kucing, tapi tidak kurus lagi mengibakan.
Dalam keadaan riang gembira saya membawa turun nasi bungkus dan data yang saya perlukan kembalilah saya ke tempat kerja saya yang gelap gulita itu dengan tangga. Tepat di bordes antara lantai atas saya dengan lantai saya, tepat diantara tempat terang benderang dengan gelap gulita, tepat diantara riuh rendah keramaian dengan kesunyian yang mendengung di telinga, berdirilah sosok putih yang kakinya menjejak lantai, sedang kepalanya tepat menyentuh plafon. Matanya, oh, matanya hanyalah kegelapan pekat dimana cahaya dapat tersedot masuk untuk tidak pernah keluar lagi.
Saya lupa definisi perasaan saya saat itu. Tapi, kotak nasi saya berhamburan terlontar dari jemari tangan saya. Kaki saya, saya gerakkan sekuat tenaga berlari menghindar ke lantai atas, tetapi saya kurang cepat, tidak pernah ada yang cukup cepat untuk suatu kengerian sejenis itu. Saya terpeleset dalam tiap langkah anak tangga. Tetapi, saya terus berlari ke lantai atas saya, dimana ada keramaian, ada cahaya, dan ada harapan. Kesepuluh anak tangga yang saya naiki, yang seperti tidak ada ujungnya, akhirnya memiliki ujung. Saya telah sampai di lantai atas saya, dan berlarilah saya ke kubikal kawan saya. Tersengal-sengal saya ceritakanlah semua yang baru saja saya lihat.
Dalam sengal nafas saya, salah seorang kawan saya menunjuk ke celana saya, ’ya ampun, aqua gelasnya pasti pecah dan membasahi celana.’
Saya memandang kepada noda basah hangat yang terletak di pangkal paha saya, lantas menyeringai, dan berkata, ‘iya, aqua, kok ini.’”
Sesungguhnya, kejadian diatas hanya fiksi belaka. Tiga paragraf pertama memang benar adanya, tetapi, kuntilanak, genderuwo, atau wewe gombel yang saya temui malam itu, makanan yang saya hambur-hamburkan, dan gelas aqua yang membasahi celana saya tidak pernah ada. Mereka basah saja dengan sendirinya. Sungguh, percayalah saya.
Keyakinan saya, bahwa saya tidak melihat apa-apa rupanya tidak didukung oleh keinginan saya memperoleh popularitas di antara rekan kerja sekantor. Maka, di hari yang berbeda, pada jam gosip di kantor (yang rupanya sepanjang hari), saya pun menambahkan cerita horor tadi dengan bumbu-bumbu sejenis vetsin. Enak dan membuat bodoh.
Rupanya saya tidak sendiri, rekan-rekan kerja saya yang lain menambahi cerita-cerita horor yang beraneka ragam. Salah satu fakta yang saya terus ingat adalah, rupanya kuntilanak selalu memilih bertempat tinggal di tempat yang lembab, dan salah satu tempat lembab favoritnya adalah Pohon pisang. Mitos ini lantas didukung oleh bukti-bukti pseudo-ilmiah lainnya oleh rekan kerja saya.
Saya lalu merasa mual. Di sebelah rumah saya terdapat kebon pisang. Ingat, bukan pohon, tapi, Kebon! Ini lantas ditambahi oleh adik saya yang menceritakan tentang seorang gadis yang tengah malam buta pernah ditemui security kompleks rumah saya. Kompleks maksudnya kampung, security maksudnya hansip. Alhasil, setiap saya pulang malam, saya membuka pagar menunduk. Akal sehat saya perlahan dimakan oleh perasaan saya. Saya tidak percaya pada hantu, tapi saya takut.
Saya pernah membaca suatu buku tentang teori bentuk. Buku itu menceritakan bagaimana otak manusia, dengan segala kompleksitasnya, selalu mencari bentuk tersederhana dari kejadian-kejadian dan pola-pola acak. Karena itulah, mungkin, Newton dapat sampai pada ide bahwa Gaya yang dihasilkan suatu benda berbanding lurus dengan massa dan percepatannya. Jangan salah, teori ini benar, tetapi tidak presisi. Teori ini hanya mengikuti grafik regresi linear dari rumusnya yang lebih sederhana. Dan apabila kita memilih mengakomodasi kepresisian ini, kita tidak akan menghasilkan hukum fisika sesederhana F=m x a
Atau, ketika Calvin meyakini predestinasi, yaitu seluruh kejadian yang kita perbuat ataupun menimpa kita, seluruh kebodohan yang kita perbuat, atau terjadi pada diri kita hanya untuk satu tujuan. Bayangkan ide bahwa semua kejadian acak sepanjang hidup kita, setiap bersin yang kita semburkan, setiap garukan di kulit kita, setiap helai daun yang berderai di suatu hutan hujan tropis di Afrika, memiliki maksud dan tujuan.
Menggelikan Calvin ini, bukan? Yah, memang. Tapi saya, sebagaimana homo neaderthalensis lainnya yang memiliki susunan otak yang sederhana, berpikir serupa.
Lantas, hubungannya dengan Kuntilanak? Kalau manusia secerdas Newton dan Calvin masih menyederhanakan cara otaknya berpikir, bagaimana mungkin saya dapat memiliki otak yang lebih cerdas sehingga dapat tidak melihat pola-pola acak di udara hasil kesilauan dari lantai di atas kubikal saya, lantas menatap pada kegelapan di lantai dimana kubikal saya berada? Ya, Kesilauan semata. Kesilauan ini lantas dibawa ke sebuah tempat gelap sebelum mata saya sempat menyesuaikan diri dengan kegelapan. Pola silau di mata saya mungkin tidak menyerupai apa-apa, tetapi karena otak saya tidak tertarik dengan pola yang acak, jadilah rupa sejenis Kuntilanak.
Tentu saja, Kuntilanak itu mungkin ada. Tetapi, tidakkah menggelikan kalau saya perlu takut pada mahkluk yang tidak memberikan ancaman pasti pada saya? Lagipula tidakkah otaknya mungkin tidak jalan dengan paku di kepalanya. Sundel Bolong? Punggungnya bolong, bagaimana dia dapat mengumpulkan sumber-sumber nutrisi dengan memakan anda? Dia lebih butuh Transfusi darah. Pocong? Akh, membuka ikatan tubuhnya sendiri dia tak mampu. Pada akhirnya saya berkesimpulan semua mahkluk gaib eksis hanya untuk tampil menakut-nakuti semata. Tidak ada pengaruh fisik yang dapat dilakukan pada mereka yang ditakut-takuti. Kecuali Si Manis, segala jenis hantu lokal tidak memiliki motif balas dendam. Si Manis yang saya maksud adalah yang dari Jembatan Ancol.
Saya akhirnya tiba pada suatu kesimpulan, mereka tidak dapat memberikan kerugian sedikitpun pada diri saya, sebagaimana keuntungan pada diri saya. Kalau anda suka membaca Al Quran, postulat ini memang memiliki kemiripan (dikatakan mencontekpun tak mengapa) dengan surat Jin ayat 21.
Untuk menutup posting dengan judul provokatif ini, yang ditulis untuk menarik traffic tentunya, izinkan saya mengutip Plotinus, filsuf Yunani 1800 tahun lalu. Dia berpendapat, kebaikan dan kejahatan tidaklah dipisahkan oleh satu garis tegas, melainkan satu titik yang secara gradual berubah menjadi titik yang lain. Kebaikan hanyalah suatu tempat di mana cahaya ilahiah sampai menerangi. Sedang kejahatan bukanlah suatu entitas yang diciptakan Tuhan, melainkan hanya suatu tempat di mana kebaikan tidak hadir, di mana cahaya ilahiah tidak sampai menerangi. Sebagaimana kejahatan, rasa takut itu mungkin teguran untuk anda karena anda agak jauh dari Yang Maha Berani.
To a friend, thanks for the push, I hope this can push you too.